Bola Kaca Eps. 3: Back To Memories



Ini adalah kenangan di lima tahun yang lalu…………………

Jika dari sekian yang pernah mengisi hari – hariku aku harus memilih satu nama, aku akan memilih dia.

Philip Anugrah Raskita

Aku pertama kali bertemu dia saat aku masih berada di Sekolah Menengah Pertama. Tepatnya di Santo Markus II, Jakarta Timur.
Ketika duduk di kelas 7, aku hanya pernah melihat sekilas. Kami berada di kelas yang berbeda. Dan aku tak memiliki rasa atau pemikiran apa pun terhadapnya. Namun, ada satu yang aku perhatikan. Dia itu kelihatan berbeda karena bentuk bibirnya yang tebal. Hahaha. Tanpa maksud aku mengejeknya tapi dia memang lucu. Dia sering kali dipanggil dengan sebutan “bibir” oleh teman – teman seangkatan kami.  Hahaha.
Dan ketika naik ke kelas 8, ia masuk di kelas 8A, kelas unggulan untuk anak – anak yang mungkin lebih cepat mencerna pelajaran dibanding anak – anak lainnya. Entahlah aku tak begitu ingin memperbincangkan keistimewaan kelas unggulan. Dan Puji Tuhan aku juga masuk di kelas yang sama dengannya. Di semester 1 kami tak begitu banyak bicara satu sama lain. Malah hampir tak pernah bicara. Kemudian di semester 2 kami mulai sering mengobrol, bercanda, tertawa. Hahaha. Dia itu memang benar – benar punya kepribadian yang menarik.

Dan kami bertambah dekat hingga kami naik ke kelas 9. Kami tidak sekelas. Aku berada di 9B dan dia di 9D. Tapi…….Hey! Aku menyukainya. Karena ia begitu menyenangkan. :)
Yang aku ingat saat itu sepulang sekolah aku harus ke ruang guru untuk mengumpulkan tugas fisika. Ketika selesai dan keluar dari ruang guru, aku begitu heran. Banyak sekali kerumunan orang – orang di dekat kelas 9C. Ada apa ini? Aku bertanya – tanya sendiri. Di sana ada dia juga rupanya.
Dan saat aku berjalan ke arah kerumunan itu, sontak mereka yang ada di sana langsung bersorak – sorai “CIEEEEEEEEEEEEEEEE”. Hey, jangan membuatku semakin bingung! Ada apa ini sebenarnya?
Saat aku tiba di kerumunan itu, aku mendengar ada salah satu teman yang berkata “Ngomong, Phil, ngomong udaaaah!” celetuknya. Aku mengerutkan kening.
Akhirnya teman – teman seperti sudah saling mengerti satu – sama lain, mereka mundur perlahan. Memberikan tempat dan membiarkan aku dan Philip berdiri di sana. Berdua.
Deg….Deg….Deg…. Detak jantungku bahkan tak bersahabat sama sekali! Ia berdetak begitu kencang. Aku merutukinya dalam hati.  Belum lagi pipiku yang kurasakan memerah sepertinya. Ahhhh!
Dan ketika empat kata keluar dari bibirnya , aku tercengang. 
“Gue suka sama lo” suaranya terdengar gugup.
Dan setelah itu sorakan teman – teman kembali terdengar “CIEEEEEEEEEEEEEE!”
“Jawab Jes, jawab!”
Kata – kata yang terucap memang bukanlah “Do you want to be my girl?” tapi kupikir ia telah cukup berusaha mengatakan “Gue suka sama lo” dengan susah payah karena kegugupan yang begitu terasa saat ia mengatakannya. Tanpa sadar aku tersenyum kecil.  Dan seperti seolah – olah mengerti ia butuh jawaban pasti dariku, aku pun mengangguk dan mengatakan “Iya.”
Kembali sorakan terdengar dari kerumunan teman – teman kami.
“Jes, tanggal jadian lo bagus lho kalau dipikir – pikir.” kata Melia, salah satu teman dekatku saat itu.
Hey! Bahkan aku tak menyadarinya sama sekali.  Aku terdiam sejenak. 9 Agustus 2007. Jika disingkat menjadi bentuk angka – angka akan menjadi 090807. Suatu kebetulan yang indah.  Lagi – lagi aku tersenyum kecil. Hihi.
 
♥♥♥♥♥♥

Perlu kalian ketahui Philip ini bahkan belum pernah berpacaran sebelumnya. Ya, kalian benar! Aku pacar pertamanya. Ia pernah mengaku kepadaku bahwa selama ini ia memang sempat beberapa kali menyukai satu hingga dua orang wanita namun ia malu dan tak begitu pintar atau mungkin tak begitu perduli untuk melanjutkan rasa itu menjadi sebuah hubungan yang lebih serius.
Dan tentu saja aku bahagia karena saat ia merasakan itu padaku, ia mau mengatakannya dan akhirnya kami berpacaran.

 Aku menyukai setiap momen yang kami berdua ciptakan. Aku menikmati setiap hari yang kami lalui. Tentu tak selalu canda tawa yang ada dalam hubungan kami. Di sana juga terdapat duka, pertengkaran, ya dan segala hal lainnya yang biasanya muncul dalam suatu jalinan kasih.
Mengingat ini baru pertama kalinya ia berpacaran, aku harus jauh lebih bersabar terhadapnya karena bahkan ia terlalu kaku dan kikuk. Kadang aku tertawa geli melihat tingkahnya yang polos dan seperti tidak tahu apa – apa mengenai pacaran. Kadang aku juga dibuat kesal olehnya.  Karena biar bagaimana pun aku ini wanita. Dan saat itu masih labil tentunya. Ingin merasa diperhatikan dan dimengerti tentunya bukan?
Namun, yang aku sadari dia bukanlah pria yang peka untuk menyadari itu semua. Juga dilatarbelakangi ini adalah kali pertama ia berpacaran. Ya ya ya, bisa kau tebak aku harus ekstra sabar menjalani ini. Tapi, aku menyayanginya. Amat sangat menyayanginya. :)

♥♥♥♥♥♥

Lucu, jika mengingat dulu semasa SMP guru – guru kami begitu “kepo” dengan terlalu mencampuri masalah percintaan murid – muridnya. Beberapa pasangan anak kelas 9 termasuk aku dan dia pernah menjadi incaran guru – guru kami yang tentunya melarang kami untuk berpacaran. Hey!  Apa ini tak terdengar aneh ketika kamu mulai menginjak masa pubertas, mulai menyukai lawan jenis, tapi mereka melarangmu untuk mengikuti proses yang seharusnya berjalan secara alami itu? Dan yang lebih menyebalkannya lagi ketika nilai – nilaimu dirasa menurun, mereka akan meng-kambing hitam-kan sesuatu yang kita sebut “pacaran” itu. Huh. Seperti tidak pernah melewati masa muda saja mereka itu, begitu pikirku.
Berkali – kali mendapat teguran, berulang – ulang guru – guru itu menyuruh kami untuk putus, namun kami tetap saja melanjutkannya. Bandel? Ya kurasa hahahaha :p
Dan akhirnya sampai kami lulus dari Sekolah Menengah Pertama hubungan itu tetap terjalin. Kami memilih sekolah yang berbeda. Ia melanjutkan di SMA Kolese Kanisius (Canisius College) yang tentu saja isinya murid pria semua.
“Hahaha lo nggak perlu takut dia macem – macem, Jes, di sana kan cowok semua,” celetuk salah satu temanku.
Aku hanya tertawa kecil menanggapinya.  Aku percaya pada pacarku sendiri. Tak perlu ada yang ditakutkan.
“Hati – hati lho, Jes, di CC dia nanti bisa aja jadinya malah sama cowok. Hahahaha” celetuk temanku yang lain. Hey! Bahkan itu lebih mengerikan daripada godaan yang pertama.  Aku melayangkan pandangan tajam ke arahnya!

♥♥♥♥♥♥

Ternyata hubungan ini menjadi semakin sulit setiap harinya. Aku tahu ia adalah seorang yang begitu giat belajar. Aku ingat akan cita – citanya.
“Dari SD aku pengen banget masuk ITB. Mau jadi insinyur kaya papaku.”
Maka dari itu dia selalu belajar setiap hari. Mungkin ini aturan yang terlalu ketat, namun kenyataannya aku dan dia hanya punya waktu untuk saling mengirimkan pesan (SMS) hingga pukul 6 sore atau jika beruntung bisa sampai pukul 7 malam. Setelah itu dari pukul 7 hingga 9 malam ia belajar setiap harinya. Kemudian setelah selesai belajar ia tidur dan lagi – lagi jika aku beruntung terkadang ia mengirimiku SMS hingga pukul setengah 10 malam. Ia memperlambat jam tidurnya. Namun bisakah kalian bayangkan, kami berada di sekolah yang berbeda. Komunikasi yang kami lakukan hanya saling mengirimkan SMS dan itu pun masih harus dibatasi oleh orang tuanya.  Telepon? Itu hanya sesekali bisa kami lakukan. Jika beruntung, seperti biasa. Maka aku selalu merekam perbincangan kami di telepon agar aku dapat mendengar suaranya jika aku ingin. Saat itu tentunya belum ada blackberry. Jadi yang bisa kulakukan hanya me-record suaranya di telepon, bukan menyimpan Voice Notes :p
Hhhh. Ijinkan aku menghela napas sejenak sebelum melanjutkan cerita.
Dan kapan waktu kami bertemu? Aku harus menunggunya selama satu bulan. Dan dalam satu bulan kami hanya bertemu satu kali. Itu pun hanya bisa dalam waktu satu jam. Pernah sekali waktu aku menunggu hingga 3 bulan hanya untuk satu kali pertemuan.  Aku akui aku cukup berusaha kuat  dan sabar dengan ini semua namun aku belum sepenuhnya dewasa untuk menerima dan menjalani ini. Ya, kalian boleh mengatakan aku labil. Dan bagaimana aku berkali – kali “putus – sambung” dengannya. Dan sudah berapa kali aku menangis untuknya. Untuk hubungan yang aneh, menyedihkan, namun aku nikmati ini.

Sebenarnya aku tahu ia menyayangiku juga. Namun ia tidaklah peka untuk menunjukkan itu kepadaku. Sering kali ia bercanda, menjahili aku, melakukan keisengan – keisengannya padaku yang sering pula membuat aku kesal. Namun, aku berusaha berpikir mungkin itu adalah caranya untuk menunjukkan rasa sayangnya untukku. Berulang kali ini juga menjadi dilemma untuk diriku sendiri. Pembawaan diri yang belum dewasa, keinginan untuk dimengerti, keinginan agar ia menunjukkan sayangnya dengan cara yang nyata dan juga ketidakpekaannya membuat kami sering bertengkar. Ah ya katakanlah ia begitu terkesan tidak perduli. Aku tak tahu apakah ia memang tak peduli atau lagi – lagi ia tak tahu apa yang harus dilakukannya terhadapku.
Sungguh, hubungan kami betul – betul sulit sejak kami diharuskan pisah di sekolah yang berbeda.

♥♥♥♥♥♥

Aku ingat saat bulan Agustus 2009 tiba, aku berencana memberikan sesuatu untuknya. Gambar! It will be very sweet when I give him my own drawing, pikirku. Ah sebetulnya aku tak pandai menggambar, namun entah kenapa aku terpikirkan rencana itu. Maka kemudian aku mulai menggambar. Karena aku bukanlah seorang yang mahir maka aku buka salah satu komik kepunyaanku. Di salah satu halamannya ada gambar seorang malaikat yang tengah asik bermain dengan seekor burung yang tak kalah cantik yang hinggap di jemarinya.
Mungkin aku tak lagi bisa memperlihatkan gambarku kepada kalian, karena gambar itu tentunya sudah kuberikan kepada dia tiga tahun lalu. Tapi, aku masih menyimpan komik itu.
 
Ini adalah gambar yang aku maksud. Malaikat dan seekor burung :')

Cantik bukan malaikat itu? Aku takkan mengatakan bahwa gambar yang kubuat hasilnya begitu indah namun jujur aku sendiri tak percaya aku dapat menggambar sama persis seperti yang ada di halaman komik itu. Aku tak percaya aku yang tak mahir menggambar bisa melakukannya. Saat itu kusadari aku bisa melakukannya karena aku menyukai bagaimana ketika aku berusaha keras menggoreskan pensilku di atas kertas gambar. Yang terpenting bagaimana rasa yang begitu menggebu – gebu saat melakukannya. Karena aku akan memberikan itu pada orang yang aku sayangi. Hanya itu yang aku pikirkan. Dan memang efek yang dihasilkan benar – benar besar. Aku menggambar dengan cukup bagus.
When you do something for someone you love , it’s gonna be a beautiful piece of work. Because you were using all your heart.
Di bawah gambar yang aku buat itu aku tuliskan …………………………………………………………….
“Happy 2nd Anniversary on 09-08-09 and Happy Birthday to you on 22-08-09. I love you
Hey. Kalian tahu, aku tersenyum kembali ketika mengetik cerita ini. Rasanya seperti bernostalgia dengan kenangan. Kenangan yang indah :)

♥♥♥♥♥♥

Seiring berjalannya waktu, dengan suka dan duka tentunya, kami hampir menginjak usia 3 tahun hubungan kami. Ini adalah hubungan paling lama yang pernah aku lalui. Aku bahagia. Sangat bahagia memilikinya.
Hingga kami berhasil mencapai 3rd years anniversary kami,  kejenuhan kembali muncul. Pertengkaran pun seperti rindu untuk menggoyahkan kami. Pun ketidakpekaan dan sulitnya kami untuk saling mengerti keadaan atau sifat kami masing – masing juga turut menguatkan kejenuhan yang ada.
Dan ini salahku. Aku goyah. Ketika itu di sekolahku aku tiba – tiba saja dekat dengan seorang temanku. Sebetulnya ia berasal dari SMP yang sama pula dengan aku dan Philip.
Dan ini salahku. Aku bodoh. Aku terlalu menikmati perhatian yang diberikan oleh teman priaku itu. Perhatian yang ingin dan mungkin jarang sekali aku terima dari pacarku sendiri.
Dan ini salahku. Aku dibutakan oleh kejenuhan. Aku tak cukup kuat . Aku kalah.

Di hari itu. Ketika semuanya semakin tak lagi bisa dipertahankan dan rasa lelah yang menjemukan telah begitu dalam,  hubungan kami berakhir. Apa? Berakhir???! BERAKHIR?!!! Kalian menyayangkan hubungan yang sudah 3 tahun terjalin itu berakhir begitu saja? Aku juga menyayangkannya. :’(

Singkat cerita. Hubunganku dengan si teman pria yang aku tak ingin sebutkan namanya ini berlanjut. Entahlah. Apakah ini yang disebut pelarian? Aku tak ingin membahasnya lebih lanjut. Selama satu bulan melakukan flirting dan akhirnya ‘jadian’. Philip tahu hal ini. Karena setelah putus itu kami masih berhubungan baik. Tidak bermusuhan seperti kebanyakan pasangan yang baru putus. Ia mengatakan “Oh sama dia, ya udah semoga baik – baik ya sama dia” :’)
Namun hubungan itu tak bertahan lama. Semuanya begitu berbeda. Dia berbeda. Itu terjadi setelah kami meresmikan hubungan kami menjadi sepasang kekasih. Dan akhirnya kuketahui ia berniat kembali lagi dengan mantan kekasihnya.
Saat itu aku teringat sebuah kalimat………………………………………………………………………………….
“Don’t leave someone you love for someone you like, because someone you like will leave you for someone they love.”
Aku menangis. Menyesal? Sangat! Betul – betul penyesalan itu memang selalu datang terlambat, bukan?

♥♥♥♥♥
Aku memang tak hilang kontak dengan Philip. Kami masih berhubungan baik. Bahkan sampai sekarang. Walau tentunya tidak terlalu intense untuk kami saling menanyakan kabar. Tidak seperti dulu saat masih ………………………………….. :’)
Dan pernah suatu hari ketika itu kami chatting di Facebook. Tiba – tiba saja kami membicarakan tentang aku dan si ‘teman pria’ ku itu. Dan aku menceritakannya. Tak ada sama sekali yang aku tutup – tutupi darinya. Bahkan aku telah siap jika mendapat celaan darinya karena aku telah begitu bodoh lebih memilih orang lain dibanding dia.
Namun kalian tahu apa yang Philip katakan padaku saat itu? Ini membuatku meneteskan air mata :’)
“Kamu sih waktu itu nggak percaya kalau aku itu sayang banget sama kamu…..”
Itu adalah kata – kata termanis yang pernah dia ucapkan. Kata – kata termanis yang begitu membekas di hatiku. Kata – kata yang berhasil menyentakkan hatiku saat itu juga.
Aku dan Philip memang tidak berpacaran kembali. Asal kau tahu, selama 3 tahun kami berpacaran, aku menghitung setiap kali kami “putus – sambung”. Dan hingga kami benar – benar putus jumlahnya adalah sebanyak 22 kali. Hahaha. Mungkin terdengar bodoh dan aneh mengapa aku begitu mengingat hal secara detail. Namun, aku menyukainya. Aku menyukai dalam mengingat setiap detail memori yang pernah tercipta dan terjadi dalam hidupku.
Karena saat semuanya berakhir dan perlahan menghilang, hanya ada kenanganlah yang masih tetap setia untuk tinggal. Di hati.
Dan kurasa hatiku pun turut senang diisi dengan begitu banyak kenangan – kenangan yang menjadikan hidupku begitu berwarna :’)

Setelahnya, pria – pria yang menjalin hubungan denganku memang ada. Namun, entah mengapa aku tak lagi bisa mencapai 3 tahun atau bahkan lebih. Entah mengapa semuanya selalu berakhir singkat, hanya dalam waktu sebulan. Ini sungguh hal yang membuatku heran, mengingat bagaimana aku terbiasa menjalani hubungan yang lama. Dengan Philip adalah yang paling lama. Sebelum – sebelumnya ya setidaknya mencapai satu setengah tahun, dan paling sebentar adalah 6 bulan. Tak pernah hanya satu bulan saja !
Bukan. Ini bukan pelarian. Aku tentu tak ingin melakukan itu lagi. Dan penyebab – penyebab putusnya hubunganku dengan mereka – mereka pun bermacam – macam, banyak juga yang disebabkan karena mereka yang ‘bermasalah’. Tentu juga aku tak perlu menceritakan detail tentang ini, bukan?  Anggap saja ini adalah proses pencarian dimana kamu akan berkali – kali jatuh cinta sebelum menemukan seseorang yang benar – benar tepat untukmu :p

♥♥♥♥♥

Sejak itu, aku belajar dua hal. Pertama, ketika kita mengedepankan ego dalam menjalani apa yang kita sebut cinta, itu hanya akan membawa kita kepada suatu penyesalan. Karena cinta hanya butuh untuk berjalan dengan begitu alami, mengalir begitu saja tanpa tuntutan apapun. Dan pastinya juga menerima setiap kelebihan dan kekurangan yang ada. Kedua, ketika kita menginginkan cinta yang begitu berwujud bahkan haruslah sesuai dengan apa yang kita imajinasikan, sesungguhnya kita tak menyadari bahwa setiap manusia memiliki caranya masing – masing untuk mewujudkan cinta itu sendiri.

Cinta dari seorang yang bahkan kau pikir tak pernah bisa menyatakannya dengan begitu manis, pada akhirnya adalah seorang yang akan membuktikan cintanya yang begitu dalam dengan wujud yang lain. Tak seperti yang kau inginkan memang. Tapi hal itu tercipta dalam wujud yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Dalam bentuk yang begitu sederhana. Yang begitu membekas dan akan terus kau ingat :’)

Karena cinta terkadang terkesan tak berwujud. Namun, kau hanya cukup menggunakan kata hatimu untuk merasakannya. Cinta. :’)

Atau juga karena cinta tak selalu harus berwujud.



Philip Anugrah Raskita

Namanya begitu melekat di hatiku. Dia adalah pria terbaik yang pernah aku punya.  Belum ada satu pun yang mampu menggantikannya.

Hingga hari itu, aku bertemu dengannya. Seorang yang mempunyai kemiripan sifat, begitu pula dengan caranya menunjukkan kasih sayangnya.  Aku bukan ingin terpaku dengan kesamaan itu. Namun aku yakin seyakin – yakinnya, pria ini adalah pria yang baik. Yang mempunyai caranya tersendiri untuk bilang “cinta”.  Dengan caranya yang menakjubkan tentunya. Yang aku yakin pula dia adalah pria hebat yang akan selalu aku ingat, sama seperti ketika aku mendapatkan hal yang begitu bermakna dengan Philip.
 Innocentius Paul Aldi  Begitu namanya lengkapnya.

Back to Top